di dalam bus patas ac yang merangkak di kemacetan ibukota,
saya yang saat itu mengenakan baju setengah basah karena kehujanan
memeluk pilu hati saya yang menggigil sore itu.
bait demi bait 'what can I do by The Corss' dari pengamen yang suaranya lumayan
memberikan sedikit awan mendung di sudut mata saya, ya tiba-tiba.
"there's only so much I can take
and I just let it go
and who knows I might feel better
If I don't trying' so I don't hope"
...
"maybe there's nothing more to say
and in a funny way I'm calm
because the power is not mine
i'm just gonna let it fly"
..
Short Day by Archipelago
life is about a writing and facing something
Kamis, 15 Maret 2012
Selasa, 13 Maret 2012
tidak ada judul.
suara hujan yang menggebu di luar kamar saya cukup menceritakan bagaimana perasaan saya malam ini.
Saya biasanya sampai tidak bisa tidur karena terlalu penat dengan fikiran yang buruk terutama tentang kesedihan yang membuat hati saya kelu.
Menangis menjadi jalan keluar namun bukan menyelesaikan, hanya saja meredam sementara.
baik, sebut saya naif.
kadang saya hanya perlu waktu sebentar untuk menangis lalu melupakan suatu hal.
namun kadang pula saya butuh waktu lama dan terus berfikir apa saya harus memutuskan suatu hal.
Satu tahun yang saya jalani saat ini mungkin agak berat, karena masalah lama terus muncul di kehidupan saya.
Saya menekan ego dan terus meredamnya dalam satu penebusan dosa, atas apa yang selama ini saya lakukan.
Namun kadang ego itu terus berteriak dan berkecamuk di dalam fikiran saya.
Ego saya ingin dipahami, ingin diberikan jalan keluar, ego saya ingin tidak terus-terusan mengalah begitu saja, dan penebusan dosa selalu berkata: this is it, jalan yang harus kamu lewati! rasa penebusan dosa juga sering kali berkata bahwa ego lebih sering hanya memperkeruh keadaan.
Saya mencoba menjadi diri saya yang lain.
Tidak frontal.
Tidak ekspresif.
Menekan perasaan.
Bersabar.
Poin terakhir selalu berasosiasi positif.
Jujur, saya kadang terlalu memikirkan sesuatu secara tidak normal. Saya selalu berfikir dua sisi, dan cenderung mudah menyerah. Saya akui, sedikit sekali aura optimis di dalam diri saya.
Saya sungguh sangat pencemburu dengan kondisi apapun dan mudah sekali salah paham.
Sayangnya saat ini ditambah rumit dengan ketidakberdayaan saya dalam mengungkapkan sesuatu.
Apapun yang ada di kepala saya terkonversi menjadi hal yang tidak enak ketika saya ungkapkan. Tidak jarang pada akhirnya, lagi-lagi saya menjadi penyebab kekacauan.
Ini berat. Saya akui. Namun saya mencoba kebal dengan berat dan sakit itu.
Pilihan saya untuk ditinggalkan. Bukan untuk meninggalkan.
Sesakit apapun itu, saya terima. Itu sudah menjadi keputusan yang mendominasi fikiran dan perbuatan saya.
Namun seorang sahabat berkata,aku hanya nyamuk bagi dirinya.
Bagaimana saya bisa terus hidup dengan dua gema seperti itu terus menerus di dalam kepala saya.
Saya tidak pernah benar2 menemukan siapa saya dan bagaimana saya harus berbuat.
kadang ini tampak kacau sekali.
kadang aku hanya seperti menunggu bom waktu,
ya, untuk ditinggalkan.
"Jika kamu letih, beritahu aku.
karna tanpa kamu bicara, aku tidak akan tahu.
semoga kamu tidak pernah salah memahami kalimatku barusan."
ada alasan kenapa saya rikuh dan segan bicara tentang hubungan. Karna saya tau persis, saya tidak bisa menyampaikan dengan baik apa yang ada di kepala dan hati saya. Sering kali hal itu justru merusak apa yang ada. dan saya takut,bahkan itu bisa merusak perasaan dia.
Saya biasanya sampai tidak bisa tidur karena terlalu penat dengan fikiran yang buruk terutama tentang kesedihan yang membuat hati saya kelu.
Menangis menjadi jalan keluar namun bukan menyelesaikan, hanya saja meredam sementara.
baik, sebut saya naif.
kadang saya hanya perlu waktu sebentar untuk menangis lalu melupakan suatu hal.
namun kadang pula saya butuh waktu lama dan terus berfikir apa saya harus memutuskan suatu hal.
Satu tahun yang saya jalani saat ini mungkin agak berat, karena masalah lama terus muncul di kehidupan saya.
Saya menekan ego dan terus meredamnya dalam satu penebusan dosa, atas apa yang selama ini saya lakukan.
Namun kadang ego itu terus berteriak dan berkecamuk di dalam fikiran saya.
Ego saya ingin dipahami, ingin diberikan jalan keluar, ego saya ingin tidak terus-terusan mengalah begitu saja, dan penebusan dosa selalu berkata: this is it, jalan yang harus kamu lewati! rasa penebusan dosa juga sering kali berkata bahwa ego lebih sering hanya memperkeruh keadaan.
Saya mencoba menjadi diri saya yang lain.
Tidak frontal.
Tidak ekspresif.
Menekan perasaan.
Bersabar.
Poin terakhir selalu berasosiasi positif.
Jujur, saya kadang terlalu memikirkan sesuatu secara tidak normal. Saya selalu berfikir dua sisi, dan cenderung mudah menyerah. Saya akui, sedikit sekali aura optimis di dalam diri saya.
Saya sungguh sangat pencemburu dengan kondisi apapun dan mudah sekali salah paham.
Sayangnya saat ini ditambah rumit dengan ketidakberdayaan saya dalam mengungkapkan sesuatu.
Apapun yang ada di kepala saya terkonversi menjadi hal yang tidak enak ketika saya ungkapkan. Tidak jarang pada akhirnya, lagi-lagi saya menjadi penyebab kekacauan.
Ini berat. Saya akui. Namun saya mencoba kebal dengan berat dan sakit itu.
Pilihan saya untuk ditinggalkan. Bukan untuk meninggalkan.
Sesakit apapun itu, saya terima. Itu sudah menjadi keputusan yang mendominasi fikiran dan perbuatan saya.
Namun seorang sahabat berkata,aku hanya nyamuk bagi dirinya.
Bagaimana saya bisa terus hidup dengan dua gema seperti itu terus menerus di dalam kepala saya.
Saya tidak pernah benar2 menemukan siapa saya dan bagaimana saya harus berbuat.
kadang ini tampak kacau sekali.
kadang aku hanya seperti menunggu bom waktu,
ya, untuk ditinggalkan.
"Jika kamu letih, beritahu aku.
karna tanpa kamu bicara, aku tidak akan tahu.
semoga kamu tidak pernah salah memahami kalimatku barusan."
ada alasan kenapa saya rikuh dan segan bicara tentang hubungan. Karna saya tau persis, saya tidak bisa menyampaikan dengan baik apa yang ada di kepala dan hati saya. Sering kali hal itu justru merusak apa yang ada. dan saya takut,bahkan itu bisa merusak perasaan dia.
Kamis, 29 September 2011
hello world!
hello world!
how's your life there?
Perkara skripsi akhirnya telah mengalami antiklimaks. Seminggu yang lalu sidang pun berhasil ku lewati dengan selamat tanpa celaka suatu apa pun. Alhamdulillah. Giliran fokus galau kehidupan relasi dengan manusia-manusia di Jogja yang semakin hari membuatku semakin nelangsa menghadapi perpisahan yang kian dekat.
Yeah, setiap perpisahan selalu berhasil membuat kita tegar dari sebelumnya. Perpisahaan mengenalkan kita pada berharganya waktu saat-saat bersama, perpisahan menorehkan secarik kenangan yang bisa kita nikmati kapan saja setelahnya. Perpisahaan memuja sedih yang berkepanjangan namun menawarkan kita dengan lembar kehidupan yang baru.
Jika kita takut dengan perpisahaan seumur hidup kita akan terpuruk dan menolak masa depan. Kita tahu, hidup tidak cuma sampai hari ini, begitu pun aku. Hidup tak berhenti sampai di sini, sampai di Jogja, sampai pada tertawa dengan teman-teman, tidak juga saat wisuda nanti.
Ada waktu yang pantas dijelang, pantas disambut oleh rasa haru masa lalu..
Well, aku pun tak pernah tahu seperti apa jadinya besok ketika aku harus meninggalkan Jogjakarta penuh cinta ini (uhuk).
Pilihan terbaik memang bukan bekerja menurutku, bekerja di Indonesia akan terus menorehkan luka untuk ku, mengingat hal-hal apa yang masih bisa dijamah namun tak kuasa hati menautkan waktunya.
Aku lebih memilih revolusi pergi sejauh-jauhnya dari Indonesia, untuk memulai hidup yang benar-benar baru. Semoga saja bisa.
Satu hal lagi yang begitu mengganjal hatiku saat ini. Ya tentang kamu.
Bisakah aku terus bersamamu? egois, memang. Tapi itu bukan opsi untuk mu. Aku tak kan pernah meminta kembali seluruh pengorbananku pada mu, tidak juga memohon mu selalu dengan ku. Tapi tolong beri aku sinyal ketika kamu tak ingin lagi bersamaku.
Terima kasih bijaksana, aku harus catat, aku salah satu orang yang menghargaimu saat kapan pun :)
Bahkan saat kau memilih untuk meninggalkanku
how's your life there?
Perkara skripsi akhirnya telah mengalami antiklimaks. Seminggu yang lalu sidang pun berhasil ku lewati dengan selamat tanpa celaka suatu apa pun. Alhamdulillah. Giliran fokus galau kehidupan relasi dengan manusia-manusia di Jogja yang semakin hari membuatku semakin nelangsa menghadapi perpisahan yang kian dekat.
Yeah, setiap perpisahan selalu berhasil membuat kita tegar dari sebelumnya. Perpisahaan mengenalkan kita pada berharganya waktu saat-saat bersama, perpisahan menorehkan secarik kenangan yang bisa kita nikmati kapan saja setelahnya. Perpisahaan memuja sedih yang berkepanjangan namun menawarkan kita dengan lembar kehidupan yang baru.
Jika kita takut dengan perpisahaan seumur hidup kita akan terpuruk dan menolak masa depan. Kita tahu, hidup tidak cuma sampai hari ini, begitu pun aku. Hidup tak berhenti sampai di sini, sampai di Jogja, sampai pada tertawa dengan teman-teman, tidak juga saat wisuda nanti.
Ada waktu yang pantas dijelang, pantas disambut oleh rasa haru masa lalu..
Well, aku pun tak pernah tahu seperti apa jadinya besok ketika aku harus meninggalkan Jogjakarta penuh cinta ini (uhuk).
Pilihan terbaik memang bukan bekerja menurutku, bekerja di Indonesia akan terus menorehkan luka untuk ku, mengingat hal-hal apa yang masih bisa dijamah namun tak kuasa hati menautkan waktunya.
Aku lebih memilih revolusi pergi sejauh-jauhnya dari Indonesia, untuk memulai hidup yang benar-benar baru. Semoga saja bisa.
Satu hal lagi yang begitu mengganjal hatiku saat ini. Ya tentang kamu.
Bisakah aku terus bersamamu? egois, memang. Tapi itu bukan opsi untuk mu. Aku tak kan pernah meminta kembali seluruh pengorbananku pada mu, tidak juga memohon mu selalu dengan ku. Tapi tolong beri aku sinyal ketika kamu tak ingin lagi bersamaku.
Terima kasih bijaksana, aku harus catat, aku salah satu orang yang menghargaimu saat kapan pun :)
Bahkan saat kau memilih untuk meninggalkanku
Jumat, 24 Juni 2011
Emosi
Sekali lagi, perasaan seperti ini begitu menyakitkan. Entah apa, setiap ingat pasti membuatku ingin menangis. Kelu. Begitulah. Bimbang selalu membuat ku ingin menangis.
Coelho dalam Sang Alkemis-nya pernah mengatakan: “hidup dimulai dengan keberuntungan si pemula, dan diakhiri dengan perjuangan si pemenang”. Itulah yang ku iyakan saat ini. Semakin hari ujian semakin sulit, tahap tersulit yang dulu kita lalui mungkin hanya level satu bila dibandingkan dengan sekarang yang sudah pada level 7 atau 8. Begitulah. Hidup selalu menguji hati yang kuat, yang tegar, dan yang tidak mudah menyerah.
Bimbang.
Aku ingin pulang ketika tempatku bukanlah sebagaimana rumah yang memberi ketenangan, rasa aman dan tentram. Bukan rumah yang membuatku selalu terjaga di saat mata seharusnya terlelap. Rumah yang ingin selalu ku tuju ketika aku berjalan terlalu jauh di luar hingga merasa letih dan perlu beristirahat. Tapi sayang, aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa egois saat ini. Aku perlu bersabar untuk beberapa waktu. Tidak lama, ku harap. Semoga saja.
Dulu aku selalu percaya kekuatan intuisi. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Begitulah. Tapi seiring hari ku menua, aku mulai memikirkan banyak hal lain, setidaknya hukum kausalitas dan pertimbangan-pertimbangan. Aku merasa menciut dari hari ke hari. Bahkan saat di mana aku seharusnya merasa lebih kuat, kini aku malah merasa makin tak berdaya. Aku pernah melalui yang lebih sulit, tapi mungkin kali ini adalah yang tersulit.
Sekarang aku tidak bisa jika tidak menangis. Ku mohon, berhentilah waktu untuk sejenak. Aku ingin semuanya kosong. Freeze. Dan lihat apa yang terjadi setelahnya. Aku ingin lima menit. Dan menyaksikan Tuhan menciptakan takdir macam apa.
Emosi, sungguh hal luar biasa yang Tuhan ciptakan selain alam semesta.
Coelho dalam Sang Alkemis-nya pernah mengatakan: “hidup dimulai dengan keberuntungan si pemula, dan diakhiri dengan perjuangan si pemenang”. Itulah yang ku iyakan saat ini. Semakin hari ujian semakin sulit, tahap tersulit yang dulu kita lalui mungkin hanya level satu bila dibandingkan dengan sekarang yang sudah pada level 7 atau 8. Begitulah. Hidup selalu menguji hati yang kuat, yang tegar, dan yang tidak mudah menyerah.
Bimbang.
Aku ingin pulang ketika tempatku bukanlah sebagaimana rumah yang memberi ketenangan, rasa aman dan tentram. Bukan rumah yang membuatku selalu terjaga di saat mata seharusnya terlelap. Rumah yang ingin selalu ku tuju ketika aku berjalan terlalu jauh di luar hingga merasa letih dan perlu beristirahat. Tapi sayang, aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa egois saat ini. Aku perlu bersabar untuk beberapa waktu. Tidak lama, ku harap. Semoga saja.
Dulu aku selalu percaya kekuatan intuisi. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Begitulah. Tapi seiring hari ku menua, aku mulai memikirkan banyak hal lain, setidaknya hukum kausalitas dan pertimbangan-pertimbangan. Aku merasa menciut dari hari ke hari. Bahkan saat di mana aku seharusnya merasa lebih kuat, kini aku malah merasa makin tak berdaya. Aku pernah melalui yang lebih sulit, tapi mungkin kali ini adalah yang tersulit.
Sekarang aku tidak bisa jika tidak menangis. Ku mohon, berhentilah waktu untuk sejenak. Aku ingin semuanya kosong. Freeze. Dan lihat apa yang terjadi setelahnya. Aku ingin lima menit. Dan menyaksikan Tuhan menciptakan takdir macam apa.
Emosi, sungguh hal luar biasa yang Tuhan ciptakan selain alam semesta.
Sabtu, 28 Mei 2011
it's a gift for you, my birthday boy!
I Love You
by Monita Tahalea
First of all, I want to say how much I love you. Though you knew I never ever could explain my feeling for you.
In the middle of being a loser on your birthday, who can not say to you a happy birthday and see your smile wherever you are, I'm just sitting and writing here, thinking of you.
I'm the one who never let you feel lonesome when you ought to thankful for your life worthwhile.
If I could sing for you, so I would.
If I could stand by your side, so I would.
but now, I'm not.
I'm sorry for this, hope next time I've a chance, much and much time to spend with you.
the second song "Kisah Indah" from Monita Tahalea is dedicated for you too :)
On the bus swift slowly, so live your life, take a chance, get your dreams.
Right here love and pray for you, as always :)
happy birthday for you.
my best gift for you has not delivered yet.
Just God save you. amiin.
*this night I become mellow, actually.
by Monita Tahalea
"Like a tears in the sand,
you put my life in your hand,
I know I will lost without you
Knowing that you are mine
It makes my life feels complete
Love will stay and find a way
Love will bright you through a day
I love you, you know it’s true
Loving you
Loving you
Loving you.."
First of all, I want to say how much I love you. Though you knew I never ever could explain my feeling for you.
In the middle of being a loser on your birthday, who can not say to you a happy birthday and see your smile wherever you are, I'm just sitting and writing here, thinking of you.
I'm the one who never let you feel lonesome when you ought to thankful for your life worthwhile.
If I could sing for you, so I would.
If I could stand by your side, so I would.
but now, I'm not.
I'm sorry for this, hope next time I've a chance, much and much time to spend with you.
the second song "Kisah Indah" from Monita Tahalea is dedicated for you too :)
"Seperti matahari, semasa menyinari
Kelam berlalu, terangi bahagia yang ku tunggu
Seperti kau di hati, selama ku menanti
Tak ada lagi, keraguan diri yang menguji
Walau hari, tak selalu indah berseri
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Kau kan kembali membawa cahaya hidup ini
Walau dunia tak selalu indah surgawi
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Walau tlah terpisah waktu, kau kan mampu kembali dalam pelukku
Senyummu, setiamu, jadikan kisah indah ku
Kau yang selalu ku tunggu
Jangan berhenti, kau yakinkan pasti cinta ini
Walau dunia tak selalu indah surgawi
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini"
On the bus swift slowly, so live your life, take a chance, get your dreams.
Right here love and pray for you, as always :)
happy birthday for you.
my best gift for you has not delivered yet.
Just God save you. amiin.
*this night I become mellow, actually.
Jumat, 06 Mei 2011
Pernah Suatu Kali
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
kamu tidak datang hari itu.
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
aku sengaja tidak datang saat itu.
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
kita tidak datang di saat yang bersamaan.
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
kita tidak mau.
Namun pernah suatu kali
kita tidak bertemu
bukan karena
kita tidak mau,
tapi
karena
saat itulah,
perpisahan.
Babak baru
pun
dimulai.
Nanti.
Jogjakarta, dini hari - Langit Galau,
kita tidak bertemu
karena
kamu tidak datang hari itu.
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
aku sengaja tidak datang saat itu.
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
kita tidak datang di saat yang bersamaan.
Pernah suatu kali
kita tidak bertemu
karena
kita tidak mau.
Namun pernah suatu kali
kita tidak bertemu
bukan karena
kita tidak mau,
tapi
karena
saat itulah,
perpisahan.
Babak baru
pun
dimulai.
Nanti.
Jogjakarta, dini hari - Langit Galau,
Sabtu, 01 Januari 2011
happy new year!
... happy new year 2011.
semoga banyak hal-hal ajaib di 2011, banyak hal-hal hebat dan amazing yang ngebuat perubahan-perubahan dalam proses hidup ini.
amiinn
semoga banyak hal-hal ajaib di 2011, banyak hal-hal hebat dan amazing yang ngebuat perubahan-perubahan dalam proses hidup ini.
amiinn
Langganan:
Postingan (Atom)