Sekali lagi, perasaan seperti ini begitu menyakitkan. Entah apa, setiap ingat pasti membuatku ingin menangis. Kelu. Begitulah. Bimbang selalu membuat ku ingin menangis.
Coelho dalam Sang Alkemis-nya pernah mengatakan: “hidup dimulai dengan keberuntungan si pemula, dan diakhiri dengan perjuangan si pemenang”. Itulah yang ku iyakan saat ini. Semakin hari ujian semakin sulit, tahap tersulit yang dulu kita lalui mungkin hanya level satu bila dibandingkan dengan sekarang yang sudah pada level 7 atau 8. Begitulah. Hidup selalu menguji hati yang kuat, yang tegar, dan yang tidak mudah menyerah.
Bimbang.
Aku ingin pulang ketika tempatku bukanlah sebagaimana rumah yang memberi ketenangan, rasa aman dan tentram. Bukan rumah yang membuatku selalu terjaga di saat mata seharusnya terlelap. Rumah yang ingin selalu ku tuju ketika aku berjalan terlalu jauh di luar hingga merasa letih dan perlu beristirahat. Tapi sayang, aku tidak bisa pulang, aku tidak bisa egois saat ini. Aku perlu bersabar untuk beberapa waktu. Tidak lama, ku harap. Semoga saja.
Dulu aku selalu percaya kekuatan intuisi. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Begitulah. Tapi seiring hari ku menua, aku mulai memikirkan banyak hal lain, setidaknya hukum kausalitas dan pertimbangan-pertimbangan. Aku merasa menciut dari hari ke hari. Bahkan saat di mana aku seharusnya merasa lebih kuat, kini aku malah merasa makin tak berdaya. Aku pernah melalui yang lebih sulit, tapi mungkin kali ini adalah yang tersulit.
Sekarang aku tidak bisa jika tidak menangis. Ku mohon, berhentilah waktu untuk sejenak. Aku ingin semuanya kosong. Freeze. Dan lihat apa yang terjadi setelahnya. Aku ingin lima menit. Dan menyaksikan Tuhan menciptakan takdir macam apa.
Emosi, sungguh hal luar biasa yang Tuhan ciptakan selain alam semesta.