Selasa, 09 Juni 2009

cerita awal tahun

Dalam ruang tanpa celah itu.
Hanya ada aku dan mereka yang terdiam memandangiku.
Tanpa siapapun di sana. Kecuali kenangan yang mati termakan usia.
Tidakkah kau merasa bersalah terhadapku?
Entah apa kau mampu memikirkan apa yang ada di benakku selama beratus tahun di dalam ruang tanpa celah itu.
Walaupun ku tak berharap satu mahkluk pun memasuki ruang tanpa celah yang ku akui miliku.
Aku masih terduduk lunglai di atas lantai ruang tanpa celah itu.
Memikirkan apa kau pernah memikirkan ku, walau satu detik saja.
Entah apa kau mampu memikirkan apa yang ada di benakku selama beratus tahun di dalam ruang tanpa celah itu.
Walaupun ku tak berharap satu mahkluk pun memasuki ruang tanpa celah yang kau hadiahkan untukku seabad lalu.
Ketika kita masih berjalan di kerumunan bersama sambil menggendong anak yang kau akui bukan anakmu.
Entah apa itu pun masih terlintas dalam memorimu. Walaupun satu byte saja.

Minggu, 31 Mei 2009

Catatan kecil hari ini (ep.1)

Aku gak akan pernah menjadi realistis.Ketika mimpi selalu membuat kebahagiaan untuk diri ku sendiri.


“Buat apa melihat kenyataan? Kalau bermimpi selalu lebih menyenangkan..”


Kata-kata itu terlontar begitu saja di malam aku bergulat dengan topik ‘kehidupan’, bersama salah seorang teman. Ya, memang aku gak pernah jadi seorang yang realistis. Begitupun kamu, mereka, dan siapa saja, ketika tengah menghadapi kenytaan yang pahit, berpura-puralah untuk bahagia, mungkin akan sedikit mengurangi kepahitan itu.


"Berfikirlah seperti ‘itu’, maka semuanya akan menjadi seperti ‘itu’."


Mungkin aku gak perlu sok bijaksana, atau sok paling benar. Setidaknya cermatilah, dengarkan sedikit, jangan keras kepala. Gak ada gunanya bersikap apatis begitu. Tapi kalau kau tetap apatis, ak akan hargai itu.


Begini, sejauh ini aku memang bukan Tuhan, bahkan di kamarku sendiri. Aku hanya mencoba untuk merenungi apa yang terjadi padaku. Mungkin kali ini kamu bisa menengok sebentar kata-kata “bullshit” yang keberadaannya sangat eksis di tengah-tengah kita:

· Cinta tak harus memiliki,

· Jika kamu cinta, maka kamu akan menuruti semua maunya,

· Bertaruh untuk kebahagiaanya, bahkan kamu rela pergi ketika dia berkata: “Tinggalkan aku!”


Its a fact. Bukan NAIF atau apalah yang biasa mereka katakan.. Aku merasakan ini, dan benar-benar melakukannya. Aku sakit, tapi ada ikhlas di sana. Selalu. Aku merasakan kekuatan cinta, ketika aku tak lagi bersamanya. Ketika aku bahkan tak pernah menemukan kesempatan untuk memilikinya. Aku merasakan bahagia, ketika dia telah bersama orang yang dipilihnya sendiri. aku sangat yakin bahwa aku merasakan kebahagiaannya. Aku sangat menghargai tiap jengkal keputusannya. Sangat.


Bukan munafik, sok kuat, sok tegar, bahkan naif.


Di fikiran ku sendiri aku selalu yakin bahwa ketika aku mencintai dia dengan tulus maka aku akan selalu dapat memanggil hatinya, dan dia pasti akan selalu juga mencintaiku.


(kali ini apa aku benar-benar naif? Karena aku tak pernah menyebut itu sebagai suatu kenaifan atau malah kemunafikan terhadap diri ku sendiri)


Aku selalu yakin, sampai kini, dia selalu juga berdoa untuk ku, selalu mencintai ku. Walau kenyataan yang aku lihat, dia sama sekali tidak pernah memperdulikan aku. Dan hal itu yang selalu membuatku tegar, berfikir tentang hal-hal yang ingin aku fikirkan. Bukan apa yang aku lihat. Hal itu yang membuat ku selalu bahagia, dan selalu bisa melewati itu semua.


Ini bukan perkara apa yang kita lihat dan apa yang orang lain lihat, tapi ini semacam perihal hati.

Dan fikiran. Dua itu saja. Iman, hanya masalah dua hal, hati dan fikiran. Keyakinan, itu saja. Bukan hal-hal physicly.. mungkin seperti wacana tentang “Tuhan”.


Orang bilang aku tidak realistis, memang. Apa peduli dengan itu semua, aku bahagia. Karena aku selalu melakukannya dengan jujur dari dalam hati ku sendiri. apa yang mereka tahu dari apa yang jauh aku rasakan? Kadang kala saja, ak tak bisa menyimpulkan apa yang benar-benar aku rasakan, jadi apalagi mereka? hanya melihat dari luar, bahkan untuk hal-hal yang kasat mata saja..


Jahat kedengarannya, ketika sering kali aku berkata: “aku tak perlu kalian. Aku selalu menyusahkan kalian. “ bahkan suatu ketika mungkin kamu bilang: “yang paling tau apa yang terbaik untuk ku hanya diriku!”.. memang. Tapi cobalah..


Aku tahu, yang terbaik untuk ku hanya dia.

Tapi apa Tuhan demikian? Apa Tuhan sependapat denganku?

Sayangnya kenytaan kadang tak sependapat dengan apa yang kita camkan.

Orang lain pun demikian. Tak selalu sejalan dengan kita.


Ku harap, kamu memahami itu. Hargai sajalah, maka semuanya akan beres Terserah mau masuk ke dalam kognisi dan keyakinanmu atau tidak, tapi dengarkan saja ketika Tuhan berkata, dengarkan saja ketika orang-orang yang sok tau itu berkata. kadang kala kita butuh sudut lain dalam memandang sesuatu. *gak konsis nih aku*

Kalau mengenai Tuhan, kita tak bisa mungkir, karena Dia selalu lebih tau dari kita. Takdir, itu yang akan tunjukkan kita.


Lagi-lagi harus menengok pada “bullshit”-an:

· Tuhan punya rencana lain. Dia yang lebih tau dari apa yang kita tau. Dia selalu memberi lebih dari yang kita butuhkan. Namun Dia tak akan pernah memberi apa yang kita inginkan, jika itu bukanlah hal yang kita butuhkan.


Are you okey?

Aku agak bingung dengan semuanya.. sikap yang seharusnya aku lakukan.. atau perihal apa yang sepatutnya aku camkan.


Aku sadar, ak tak pernah bisa hidup sendiri. bahkan ketika aku berkata: “Aku bisa tanpa kalian. All by my self.” Tapi mengapa aku tetap apatis dengan itu, kedengarannya memang lagi-lagi naif, karena apa yang aku yakini, selalu akan membuahkan kenyataan yang terjadi. Aku bisa sendiri, tanpa kalian.

Kadang aku hanya ingin hidup dengan statement ku sendiri, aku tak ingin satu hal pun dari luar yang menggoyahkan itu. Karena terkadang, hal-hal dari luar selalu membuat ku lemah. Aku tidak ingin itu.

Huh. Aku biarkan kamu lagi-lagi bilang kalau aku itu sok tegar. WTVR!

Aku selalu melakukan sesuatu yang membuatku nyaman. Aku seringkali berkata apa yang ingin aku katakan. Karena mengatakan dan melakukan apa pun yang didasari dengan hati, akan selalu membuatku bahagia.. egois memang. Tapi tak sepenuhnya. Kadangkala aku masih terpaksa berbohong dg diriku sendiri, demi mengalah dengan keadaan. Sayangnya, kedaaan tak pernah mengalah demi aku!

Sebal!


Begini, kebahagiaan itu kan ketika kita bisa bicara tentang apa yang ingin kita bicarakan. Analoginya, bahagia itu kan ketika kita bisa tidur ketika kita ingin tidur, bisa makan ketika kita ingin makan.


Sesekali coba, jangan bersikap sok pahlawan seperti itu, udahlah..

Hhahaha.. aku bingung sendiri kelanjutannya. manusia memang mahluk yang dinamis dan gampang berubah-ubah.. kadang egois kadang apatis, kadang bijaksana kadang sangat childish..

aku pun begitu.


ak bilang, aku ini selalu melakukan semua dari hatiku.

padahal tidak, kadang aku masih membuat diriku sendiri 'menderita'. mengalah, sok hero. dan lain semacamnya. tapi itu atas pertimbangan tertentu.

kadang aku berpura-pura bahagia, padahal hati ku menangis.

tapi itu semua supaya aku benar-benar bahagia di tengah hati yang kelu..


*aku selalu puas menulis ketika akhirnya aku bingung sendiri dengan yang aku tulis. Ketika aku bingung dengan kata-kata penutup. Tapi aku puas, dan sangat ngurangin stres ku. Biasanya kalau sudah seperti ini, aku selalu jadi mengantuk dan ingin tidur, padahal 4 jam yang lalu aku baru saja terbangung dari tidur 12jam ku.. :)

Rabu, 01 April 2009

to: 08998368127*



Bukan cinta yang ku temukan,
ketika ku jalari hari denganmu.

Bukan kisah yang berakhir,
ketika awal aku melangkah masuk ke dalam hidupmu.

Percayalah,
bukan sedih dan sakit,
ketika ku bertaruh meninggalkannya untukmu.

Bukan letih,
ketika ku susuri cinta di jauh tatapan mu.

Bukan kecewa,
ketika kau tahu bahwa aku tak pernah menemukannya di sana.

Bukan derai tangis akan perpisahan yang nyaris tragis,
ketika kita bersedia melanjutkan hidup masing-masing.

Ku harap,
bukan sia-sia,
ketika kehidupan tak lagi melanggengkan kita.

Sungguh,
bukanlah sedih,
ketika akhir ini menjadi sebuah awal bagi kebahagiaanmu.

Dan semoga bukanlah dosa,
ketika aku akui aku kehilangan seorang sahabat.

"Kau tahu?
dulu,
78% sehari menjalani hidup dengan mu,
88% menyita fikiranku.
Kini,
98% menyisakan kenangan di hidupku."

*The number you are calling is not registered. Please check the number

Elaborasi

Sungguh,
Apapun yang menimpa semakin mendewasakan aku.
Waktu telah mengajarkan hidup, mengisahkan perih, menegarkan hati.

Itulah.

Musim semakin membiasakan diri,
untuk tak lelah berjalan
di pilunya musim gugur,
di ramainya musim panas,
di heningnya musim dingin,
di cerianya musim semi,

Musim berbicara,
untuk tak henti berlari melewati waktu.

Selasa, 31 Maret 2009

Percakapan Kemarin: The Confession Of Love

Raine : “Fan, kenapa kamu ninggalin aku?”

Rifan : “Aku?”

Raine : “Iya, kamu. Siapa lagi?”

Rifan : “Aku ninggalin kamu?”

Raine : -menatap tajam, membuang nafas panjang-

Rifan : -memandang ke ruang hampa-, “Karna kamu ninggalin aku.”

Raine : “Aku? Ninggalin kamu? Kapan?” –mata Raine jauh lebih bulat dari sebelumnya-

Rifan : -tersenyum tanpa makna- “Kamu gak pernah ngerasa? Kamu pernah nyakitin aku.”

Raine : -menerawang jauh- “Sedetik pun perasaan aku gak pernah berpaling dari kamu.”

Rifan : “Hati orang siapa yang tau, Raine.” –tersenyum lagi. Tapi kali ini lebih bermakna.

Raine : -menggelengkan kepala- “Physicly, iya. Tapi kamu gak pernah percaya sama aku pake hati kamu. Kamu terlalu naif, selalu percaya sama hal yang kamu lihat. Kamu itu bodoh.”

Rifan : “Kamu mau bilang kalo cuma orang waras aja yang masih percaya sama kamu ketika lihat kamu jalan sama orang lain? Kamu ketawa-kamu bercanda sama dia. Kamu kelihatan bahagia banget, Raine.” -nadanya meninggi,

Raine : “Aku bahagia. Memang. Tapi sebentar. Karna perasaan aku bilang aku salah. Aku gak mencintai dia. Cuma kamu fan. Cuma kamu. . gak ada lagi.” –mata Raine mulai berkaca-kaca menatap sosok Rifan yang kini membelakanginya.

Rifan : -membuang nafas panjang lagi, sedetik kemudian dia berbalik dan menatap sosok wanita kurus dan kuyu, nyaris tidak pernah tidur.

Raine : menunduk-- “Kamu juga ninggalin aku. Kamu gak pamit apa-apa sama aku. Kamu tega, Fan.”

Rifan : “Denger ya, Raine. Aku itu tercipta bukan untuk kamu. begitu juga kamu, hadir di dunia ini bukan untuk aku. Ada orang yang jauh lebih butuh aku dibanding kamu. Dan ada orang yang juga lebih butuh kamu ketimbang aku.”

Raine : “Aku ga pernah berfikir gitu, Fan. Kalo aku mau kamu tetep ada di hati aku. Apa itu salah?”

Rifan : “Salah, Raine. Aku ga pernah sayang sama kamu. Cinta kamu ke aku sia-sia. Aku sayang istri aku.”

Raine : “Aku ga percaya apa yang barusan kamu bilang. Kamu bohong sama aku. kamu lebih kenal aku dulu dibanding dia, tapi kenapa kamu milih dia? apa aku kurang buat kamu? aku gak pernah jadi yang kedua kan di hati kamu?” -tanyanya penuh harap, setengah meyakinkan diri yang sebenarnya terlanjur pupus parah.

Rifan : “Dulu. Tapi sekarang beda, Raine. Aku punya hidup ku sendiri. Kamu juga begitu. Kita gak sama. Kamu jalanin hidup kamu sendiri. Dan aku juga bakal baik-baik aja sama apa yang aku jalanin sekarang.”

Raine : “Fan,lihat mata aku. Jawab yang jujur. Apa kamu bahagia?” -sorotnya tajam, seakan menelusuri fikiran Rifan-

Rifan : tersenyum, sedikit memaksakan- “iya, tadi aku udah bilang kan sama kamu. Aku bahagia, aku sayang sama istri aku.”

Raine : “Kamu hebat, Fan. Aku kalah. Aku selalu jadi pecundang.” Harapannya kini memang berada di titik nol.

Rifan : “Di mata aku, kamu selalu jadi pemenang.”

Raine : sigh-“ aku gak ngerti maksud kamu. tapi kenyataannya.. yaudahlah. Aku fikir tadinya kita bisa nyelesaiin semuanya sekarang..”

Jeda.
Rifan tetap diam dan kelihatan bertekad mengakhiri pembicaraannya dengan Raine sampai pada kalimatnya yang terakhir barusan.

Raine : sedikit tidak ingin mengakhiri, takut-takut dirinya akan menyesal. “Hmm.. gak apa-apa. Aku cuma mau ungkapin apa yang selama ini gak kamu tau. Dan aku juga mau tau yang sebenernya perasaan kamu.. mau ngeyakini diri aku aja sebenernya kamu bahagia atau nggak. Tapi sekarang akhirnya aku tau. Dan bener, apa yang aku takutin..”

Jeda.
Rifan tetap tidak menimpali kata-kata Raine.

Raine : “ahh.. Aku gak pernah ngebayangin bakal kayak gini. Bakal jadi pengganggu hubungan orang.. apalagi hubungan orang yang aku sayang sama orang yang dia cinta. Aku yang bodoh, Fan.. harusnya dari dulu aku sadar kalo semuanya emang udah berakhir.”
Hati Raine kelu, sangat kelu. Rasanya ia hampir rubuh. Ia memilih untuk duduk di kursi semen
terdekat. Matanya tak berkedip, takut-takut satu tetesan keluar dan membuat tetesan-tetesan selanjutnya berhamburan.

Keduanya melempar pandangan kosong ke hamparan pantai yang membentang di depannya.
Pantai. Ya, pantai. Tempat yang dulu Raine inginkan sebagai tempat terindah mengucap janji. Dan mampu tuk lewatkan masa indah mereka berdua. Sayangnya, itu hanya hayalan kecil Raine yang ia ciptakan untuknya sendiri. Untuk membangkitkan semangat hidupnya sendiri. Ini kali pertama, dan mungkin juga sekaligus yang terakhir ia lewatkan sewaktu dengan Rifan, orang yang sangat ia cintai, di pantai, di tempat yang sangat ia impikan.

Jeda.
Raine berfikir keras, kesempatan terakhir macam apa yang sebenarnya ia harapkan.
Ia berusaha meredam emosinya sendiri yang selalu mudah termanifestasi ketika berhadapan dengan Rifan.

Jeda.
Raine sudah benar-benar memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi berada di satu langit dengan jarak yang sangat dekat sekali dengan orang yang ia impikan.
Ingin rasanya menghanyutkan semua kenangan dan khayalannya bersama Rifan di pantai di hadapannya.
Ia mulai beranjak dari kursinya. Kini ia dalam posisi berdiri dan siap melangkah, ketika satu tangan Rifan meraih lengannya.

Rifan : “Raine, tunggu..”

Raine menoleh. Lalu jeda.

Rifan : “Aku sayang sama kamu. aku juga ga bisa bohongin perasaan aku. Aku seperti ini karna kamu. Aku milih dia, karna aku sayang kamu. Aku nikahin dia, karna aku berfikir untuk hidup kamu. aku ninggalin kamu, karna aku pingin, cinta aku ke kamu tetep sama kayak dulu. Tetep suci. Tanpa obsesi. Bener-bener cinta sama kamu, tanpa berfikir dan berharap kamu juga cinta sama aku.

Raine : -airmatanya tidak terbendung lagi-

Rifan : perlahan berjalan mendekat ke arah Raine. Kedua tangannya yang besar meraih tangan kecil Raine yang dingin dan gemetar. Ia genggam erat-erat, berharap bisa menghangatkan Raine.-
“Kamu selalu sama. Ga pernah berubah. Selalu Raine yang cinta sama Rifan, kan?”

Raine : memberikan anggukan kecil, memilih untuk mengunci mulutnya sendiri, sebab airmata yang terus keluar dari tadi membuat nafasnya jadi tidak beraturan.

Rifan tidak tahan melihat wajah sendu Raine, ia mengelus kepala Raine dan mengusap air matanya yang bercucuran. Perlahan ia dekatkan wajahnya ke arah atas. Dan kecupannya pun tepat mendarat di dahi Raine.

Rifan : “Aku sayang sama kamu, karna itu aku ga memilih kamu di kehidupan ku. Aku mau kita ketemu lagi di kehidupan nanti. Bukan sekrang. Aku ga bisa kamu tinggalin, makanya aku memilih lebih dulu ninggalin kamu. Maaf ya, aku memang egois. Semoga kamu ngerti, Raine”.

Raine : -wajahnya menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya, “ Aku akan terus sayang sama kamu. selama apapun itu, Fan. Aku nerima kenyataan hidup aku. Aku gak papa, walaupun aku ga akan pernah punya pendamping di hidup aku. Aku lebih baik seperti itu, ketimbang harus bohongin perasaan aku. Dibanding aku harus pura-pura sayang sama orang lain yang bukan kamu. Aku nyakitin diri aku sendiri dan orang itu, aku gak mau. Lebih baik, aku terus sendiri.”

Rifan : “Bodoh. Buat apa aku nikahin dia, kalo kamu milih untuk gak bahagia? Sama aja artinya kamu ga ngehargain pengorbanan aku, Raine.”

Raine limbung, tidak mengerti.

Rifan : “Kamu itu sempurna di mata aku. Aku yakin kamu ga akan ngelakuin hal-hal bodoh kayak yang isteri aku lakuin. Tanpa aku, kamu masih bisa bahagia, masih bisa tetap hidup. Kamu masih bisa tersenyum, tertawa, karena kamu punya apa yang istri aku ga punya. Kamu lebih hebat dari wanita mana pun. Aku ga pernah khawatir karena aku selalu percaya sama kamu.”

Rifan : Guratan senyum tergambar lagi di wajahnya, sembari meyakinkan dirinya dan diri orang yang dikecupnya barusan.

Raine : Matanya bulat dan basah. Tetap terpaku. Tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun lagi. Apa yang tadi dikatakannya merupakan keputusan final, yang tidak ingin dibantah lagi oleh siapa pun.

Rifan : “Kamu gak bakal bunuh diri dan semacamnya kalo aku ninggalin kamu. Kamu ga akan ngerusak diri kamu kalo aku ga ada lagi di hidup kamu. Kamu akan terus hidup buat kebahagiaan aku. Buat pilihan aku.”

Jeda. Keduanya diam lagi.

Rifan : “Istri aku, dia negrusak hidupnya ketika aku berjalan satu langkah ninggalin dia. Saat itu aku sadar, dia butuh aku..”

Rifan mengakhiri kata-katanya begitu cepat.

Raine : “Aku bangga sama kamu. aku percaya sama kamu. aku ga pernah salah mencintai orang seperti kamu. aku ga pernah sia-sia. Apa yang kamu bilang, benar. Aku masih bisa hidup tanpa kamu. Ada orang yang lebih butuh aku dibanding kamu.”

Rifan : “Kamu janji bakal terus hidup? Janji, kalo kamu bakalan bahagia.. aku juga selalu bangga sama kamu, Raine. Tuhan ga pernah salah memilih kamu yang selalu ada di hati aku.”

Raine : “Kita selalu sama. Peluk aku Fan. Untuk yang pertama kali di hidup aku. Dan aku janji ini untuk yang terakhir kalinya juga. Aku ga akan ganggu kebahagiaan kamu. Gak akan ganggu fikiran kamu.”

Rifan : -mendekap Raine erat-erat- “sampai ketemu lagi ya Raine. Aku juga bakalan nunggu kamu. Untuk kehidupan yang lebih hakiki. Jaga diri kamu. Ketika kamu udah bahagia, jangan pernah berfikir tentang aku lagi. Kalo kamu masih mikirin aku, itu tandanya kamu belum bahagia. Aku selalu bahagia ketika kamu juga bahagia. Aku selalu sedih, ketika kamu juga sedih. Karena benang merah yang menghubungkan kedua jari kelingking kita ga akan pernah putus sampai kita mati..”

Raine : “Aku janji, Fan. Aku janji aku bakal hidup bahagia. Tanpa kamu suruh, aku juga selalu nunggu kamu. See you again.”

Tetesan airmata terakhir Raine mengering di kaos putih polos tanpa corak milik Rifan.

Sosok Raine yang tidak pernah berubah sejak terakhir kali Rifan lihat ketika Raine sedang bersama Rian mulai menghilang dari pandangannya.

Sosok Raine yang mengenakan kaos putih dan rok biru cerah, kini akan selalu terekam dalam ingatan Rifan. Selamanya.


Raine and Rifan- about their last dream.
Psycho-analysist by nuraini septiana.

Kata Sambutan (bagian kedua)

huaaa... telah lama sudah blog ini tidak up date.
lupa password dan bla bla bla.. banyak hal pokoknya.

yang terpenting adalah:
satu perubahan besar telah terjadi di dalam hidupku.
entah itu karena kamu, dia atau mereka.
aku juga kurang paham akan hal yang satu ini..

oke. mulai sekarang aku akan bercerita banyak tentang hidupku di sini.
at least aku bisa meluapkan apa yang mengganjal. hhhehe.

soal nanti ada yang baca atau nggak, aku ga peduli.
ya syukur klo ada yang mau baca dan jadi terinspirasi.

awalnya blog ini kan dibuat untuk merampungi tugas dasar-dasar penulisan ku.
tapi yasudahlah, akhirnya malah jadi tempat curcol ku.
ga papa kan yah?

oke.
get a new life . get it now.