Raine : “Fan, kenapa kamu ninggalin aku?”
Rifan : “Aku?”
Raine : “Iya, kamu. Siapa lagi?”
Rifan : “Aku ninggalin kamu?”
Raine : -menatap tajam, membuang nafas panjang-
Rifan : -memandang ke ruang hampa-, “Karna kamu ninggalin aku.”
Raine : “Aku? Ninggalin kamu? Kapan?” –mata Raine jauh lebih bulat dari sebelumnya-
Rifan : -tersenyum tanpa makna- “Kamu gak pernah ngerasa? Kamu pernah nyakitin aku.”
Raine : -menerawang jauh- “Sedetik pun perasaan aku gak pernah berpaling dari kamu.”
Rifan : “Hati orang siapa yang tau, Raine.” –tersenyum lagi. Tapi kali ini lebih bermakna.
Raine : -menggelengkan kepala- “Physicly, iya. Tapi kamu gak pernah percaya sama aku pake hati kamu. Kamu terlalu naif, selalu percaya sama hal yang kamu lihat. Kamu itu bodoh.”
Rifan : “Kamu mau bilang kalo cuma orang waras aja yang masih percaya sama kamu ketika lihat kamu jalan sama orang lain? Kamu ketawa-kamu bercanda sama dia. Kamu kelihatan bahagia banget, Raine.” -nadanya meninggi,
Raine : “Aku bahagia. Memang. Tapi sebentar. Karna perasaan aku bilang aku salah. Aku gak mencintai dia. Cuma kamu fan. Cuma kamu. . gak ada lagi.” –mata Raine mulai berkaca-kaca menatap sosok Rifan yang kini membelakanginya.
Rifan : -membuang nafas panjang lagi, sedetik kemudian dia berbalik dan menatap sosok wanita kurus dan kuyu, nyaris tidak pernah tidur.
Raine : menunduk-- “Kamu juga ninggalin aku. Kamu gak pamit apa-apa sama aku. Kamu tega, Fan.”
Rifan : “Denger ya, Raine. Aku itu tercipta bukan untuk kamu. begitu juga kamu, hadir di dunia ini bukan untuk aku. Ada orang yang jauh lebih butuh aku dibanding kamu. Dan ada orang yang juga lebih butuh kamu ketimbang aku.”
Raine : “Aku ga pernah berfikir gitu, Fan. Kalo aku mau kamu tetep ada di hati aku. Apa itu salah?”
Rifan : “Salah, Raine. Aku ga pernah sayang sama kamu. Cinta kamu ke aku sia-sia. Aku sayang istri aku.”
Raine : “Aku ga percaya apa yang barusan kamu bilang. Kamu bohong sama aku. kamu lebih kenal aku dulu dibanding dia, tapi kenapa kamu milih dia? apa aku kurang buat kamu? aku gak pernah jadi yang kedua kan di hati kamu?” -tanyanya penuh harap, setengah meyakinkan diri yang sebenarnya terlanjur pupus parah.
Rifan : “Dulu. Tapi sekarang beda, Raine. Aku punya hidup ku sendiri. Kamu juga begitu. Kita gak sama. Kamu jalanin hidup kamu sendiri. Dan aku juga bakal baik-baik aja sama apa yang aku jalanin sekarang.”
Raine : “Fan,lihat mata aku. Jawab yang jujur. Apa kamu bahagia?” -sorotnya tajam, seakan menelusuri fikiran Rifan-
Rifan : tersenyum, sedikit memaksakan- “iya, tadi aku udah bilang kan sama kamu. Aku bahagia, aku sayang sama istri aku.”
Raine : “Kamu hebat, Fan. Aku kalah. Aku selalu jadi pecundang.” Harapannya kini memang berada di titik nol.
Rifan : “Di mata aku, kamu selalu jadi pemenang.”
Raine : sigh-“ aku gak ngerti maksud kamu. tapi kenyataannya.. yaudahlah. Aku fikir tadinya kita bisa nyelesaiin semuanya sekarang..”
Jeda.
Rifan tetap diam dan kelihatan bertekad mengakhiri pembicaraannya dengan Raine sampai pada kalimatnya yang terakhir barusan.
Raine : sedikit tidak ingin mengakhiri, takut-takut dirinya akan menyesal. “Hmm.. gak apa-apa. Aku cuma mau ungkapin apa yang selama ini gak kamu tau. Dan aku juga mau tau yang sebenernya perasaan kamu.. mau ngeyakini diri aku aja sebenernya kamu bahagia atau nggak. Tapi sekarang akhirnya aku tau. Dan bener, apa yang aku takutin..”
Jeda.
Rifan tetap tidak menimpali kata-kata Raine.
Raine : “ahh.. Aku gak pernah ngebayangin bakal kayak gini. Bakal jadi pengganggu hubungan orang.. apalagi hubungan orang yang aku sayang sama orang yang dia cinta. Aku yang bodoh, Fan.. harusnya dari dulu aku sadar kalo semuanya emang udah berakhir.”
Hati Raine kelu, sangat kelu. Rasanya ia hampir rubuh. Ia memilih untuk duduk di kursi semen
terdekat. Matanya tak berkedip, takut-takut satu tetesan keluar dan membuat tetesan-tetesan selanjutnya berhamburan.
Keduanya melempar pandangan kosong ke hamparan pantai yang membentang di depannya.
Pantai. Ya, pantai. Tempat yang dulu Raine inginkan sebagai tempat terindah mengucap janji. Dan mampu tuk lewatkan masa indah mereka berdua. Sayangnya, itu hanya hayalan kecil Raine yang ia ciptakan untuknya sendiri. Untuk membangkitkan semangat hidupnya sendiri. Ini kali pertama, dan mungkin juga sekaligus yang terakhir ia lewatkan sewaktu dengan Rifan, orang yang sangat ia cintai, di pantai, di tempat yang sangat ia impikan.
Jeda.
Raine berfikir keras, kesempatan terakhir macam apa yang sebenarnya ia harapkan.
Ia berusaha meredam emosinya sendiri yang selalu mudah termanifestasi ketika berhadapan dengan Rifan.
Jeda.
Raine sudah benar-benar memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi berada di satu langit dengan jarak yang sangat dekat sekali dengan orang yang ia impikan.
Ingin rasanya menghanyutkan semua kenangan dan khayalannya bersama Rifan di pantai di hadapannya.
Ia mulai beranjak dari kursinya. Kini ia dalam posisi berdiri dan siap melangkah, ketika satu tangan Rifan meraih lengannya.
Rifan : “Raine, tunggu..”
Raine menoleh. Lalu jeda.
Rifan : “Aku sayang sama kamu. aku juga ga bisa bohongin perasaan aku. Aku seperti ini karna kamu. Aku milih dia, karna aku sayang kamu. Aku nikahin dia, karna aku berfikir untuk hidup kamu. aku ninggalin kamu, karna aku pingin, cinta aku ke kamu tetep sama kayak dulu. Tetep suci. Tanpa obsesi. Bener-bener cinta sama kamu, tanpa berfikir dan berharap kamu juga cinta sama aku.
Raine : -airmatanya tidak terbendung lagi-
Rifan : perlahan berjalan mendekat ke arah Raine. Kedua tangannya yang besar meraih tangan kecil Raine yang dingin dan gemetar. Ia genggam erat-erat, berharap bisa menghangatkan Raine.-
“Kamu selalu sama. Ga pernah berubah. Selalu Raine yang cinta sama Rifan, kan?”
Raine : memberikan anggukan kecil, memilih untuk mengunci mulutnya sendiri, sebab airmata yang terus keluar dari tadi membuat nafasnya jadi tidak beraturan.
Rifan tidak tahan melihat wajah sendu Raine, ia mengelus kepala Raine dan mengusap air matanya yang bercucuran. Perlahan ia dekatkan wajahnya ke arah atas. Dan kecupannya pun tepat mendarat di dahi Raine.
Rifan : “Aku sayang sama kamu, karna itu aku ga memilih kamu di kehidupan ku. Aku mau kita ketemu lagi di kehidupan nanti. Bukan sekrang. Aku ga bisa kamu tinggalin, makanya aku memilih lebih dulu ninggalin kamu. Maaf ya, aku memang egois. Semoga kamu ngerti, Raine”.
Raine : -wajahnya menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya, “ Aku akan terus sayang sama kamu. selama apapun itu, Fan. Aku nerima kenyataan hidup aku. Aku gak papa, walaupun aku ga akan pernah punya pendamping di hidup aku. Aku lebih baik seperti itu, ketimbang harus bohongin perasaan aku. Dibanding aku harus pura-pura sayang sama orang lain yang bukan kamu. Aku nyakitin diri aku sendiri dan orang itu, aku gak mau. Lebih baik, aku terus sendiri.”
Rifan : “Bodoh. Buat apa aku nikahin dia, kalo kamu milih untuk gak bahagia? Sama aja artinya kamu ga ngehargain pengorbanan aku, Raine.”
Raine limbung, tidak mengerti.
Rifan : “Kamu itu sempurna di mata aku. Aku yakin kamu ga akan ngelakuin hal-hal bodoh kayak yang isteri aku lakuin. Tanpa aku, kamu masih bisa bahagia, masih bisa tetap hidup. Kamu masih bisa tersenyum, tertawa, karena kamu punya apa yang istri aku ga punya. Kamu lebih hebat dari wanita mana pun. Aku ga pernah khawatir karena aku selalu percaya sama kamu.”
Rifan : Guratan senyum tergambar lagi di wajahnya, sembari meyakinkan dirinya dan diri orang yang dikecupnya barusan.
Raine : Matanya bulat dan basah. Tetap terpaku. Tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun lagi. Apa yang tadi dikatakannya merupakan keputusan final, yang tidak ingin dibantah lagi oleh siapa pun.
Rifan : “Kamu gak bakal bunuh diri dan semacamnya kalo aku ninggalin kamu. Kamu ga akan ngerusak diri kamu kalo aku ga ada lagi di hidup kamu. Kamu akan terus hidup buat kebahagiaan aku. Buat pilihan aku.”
Jeda. Keduanya diam lagi.
Rifan : “Istri aku, dia negrusak hidupnya ketika aku berjalan satu langkah ninggalin dia. Saat itu aku sadar, dia butuh aku..”
Rifan mengakhiri kata-katanya begitu cepat.
Raine : “Aku bangga sama kamu. aku percaya sama kamu. aku ga pernah salah mencintai orang seperti kamu. aku ga pernah sia-sia. Apa yang kamu bilang, benar. Aku masih bisa hidup tanpa kamu. Ada orang yang lebih butuh aku dibanding kamu.”
Rifan : “Kamu janji bakal terus hidup? Janji, kalo kamu bakalan bahagia.. aku juga selalu bangga sama kamu, Raine. Tuhan ga pernah salah memilih kamu yang selalu ada di hati aku.”
Raine : “Kita selalu sama. Peluk aku Fan. Untuk yang pertama kali di hidup aku. Dan aku janji ini untuk yang terakhir kalinya juga. Aku ga akan ganggu kebahagiaan kamu. Gak akan ganggu fikiran kamu.”
Rifan : -mendekap Raine erat-erat- “sampai ketemu lagi ya Raine. Aku juga bakalan nunggu kamu. Untuk kehidupan yang lebih hakiki. Jaga diri kamu. Ketika kamu udah bahagia, jangan pernah berfikir tentang aku lagi. Kalo kamu masih mikirin aku, itu tandanya kamu belum bahagia. Aku selalu bahagia ketika kamu juga bahagia. Aku selalu sedih, ketika kamu juga sedih. Karena benang merah yang menghubungkan kedua jari kelingking kita ga akan pernah putus sampai kita mati..”
Raine : “Aku janji, Fan. Aku janji aku bakal hidup bahagia. Tanpa kamu suruh, aku juga selalu nunggu kamu. See you again.”
Tetesan airmata terakhir Raine mengering di kaos putih polos tanpa corak milik Rifan.
Sosok Raine yang tidak pernah berubah sejak terakhir kali Rifan lihat ketika Raine sedang bersama Rian mulai menghilang dari pandangannya.
Sosok Raine yang mengenakan kaos putih dan rok biru cerah, kini akan selalu terekam dalam ingatan Rifan. Selamanya.
Rifan : “Aku?”
Raine : “Iya, kamu. Siapa lagi?”
Rifan : “Aku ninggalin kamu?”
Raine : -menatap tajam, membuang nafas panjang-
Rifan : -memandang ke ruang hampa-, “Karna kamu ninggalin aku.”
Raine : “Aku? Ninggalin kamu? Kapan?” –mata Raine jauh lebih bulat dari sebelumnya-
Rifan : -tersenyum tanpa makna- “Kamu gak pernah ngerasa? Kamu pernah nyakitin aku.”
Raine : -menerawang jauh- “Sedetik pun perasaan aku gak pernah berpaling dari kamu.”
Rifan : “Hati orang siapa yang tau, Raine.” –tersenyum lagi. Tapi kali ini lebih bermakna.
Raine : -menggelengkan kepala- “Physicly, iya. Tapi kamu gak pernah percaya sama aku pake hati kamu. Kamu terlalu naif, selalu percaya sama hal yang kamu lihat. Kamu itu bodoh.”
Rifan : “Kamu mau bilang kalo cuma orang waras aja yang masih percaya sama kamu ketika lihat kamu jalan sama orang lain? Kamu ketawa-kamu bercanda sama dia. Kamu kelihatan bahagia banget, Raine.” -nadanya meninggi,
Raine : “Aku bahagia. Memang. Tapi sebentar. Karna perasaan aku bilang aku salah. Aku gak mencintai dia. Cuma kamu fan. Cuma kamu. . gak ada lagi.” –mata Raine mulai berkaca-kaca menatap sosok Rifan yang kini membelakanginya.
Rifan : -membuang nafas panjang lagi, sedetik kemudian dia berbalik dan menatap sosok wanita kurus dan kuyu, nyaris tidak pernah tidur.
Raine : menunduk-- “Kamu juga ninggalin aku. Kamu gak pamit apa-apa sama aku. Kamu tega, Fan.”
Rifan : “Denger ya, Raine. Aku itu tercipta bukan untuk kamu. begitu juga kamu, hadir di dunia ini bukan untuk aku. Ada orang yang jauh lebih butuh aku dibanding kamu. Dan ada orang yang juga lebih butuh kamu ketimbang aku.”
Raine : “Aku ga pernah berfikir gitu, Fan. Kalo aku mau kamu tetep ada di hati aku. Apa itu salah?”
Rifan : “Salah, Raine. Aku ga pernah sayang sama kamu. Cinta kamu ke aku sia-sia. Aku sayang istri aku.”
Raine : “Aku ga percaya apa yang barusan kamu bilang. Kamu bohong sama aku. kamu lebih kenal aku dulu dibanding dia, tapi kenapa kamu milih dia? apa aku kurang buat kamu? aku gak pernah jadi yang kedua kan di hati kamu?” -tanyanya penuh harap, setengah meyakinkan diri yang sebenarnya terlanjur pupus parah.
Rifan : “Dulu. Tapi sekarang beda, Raine. Aku punya hidup ku sendiri. Kamu juga begitu. Kita gak sama. Kamu jalanin hidup kamu sendiri. Dan aku juga bakal baik-baik aja sama apa yang aku jalanin sekarang.”
Raine : “Fan,lihat mata aku. Jawab yang jujur. Apa kamu bahagia?” -sorotnya tajam, seakan menelusuri fikiran Rifan-
Rifan : tersenyum, sedikit memaksakan- “iya, tadi aku udah bilang kan sama kamu. Aku bahagia, aku sayang sama istri aku.”
Raine : “Kamu hebat, Fan. Aku kalah. Aku selalu jadi pecundang.” Harapannya kini memang berada di titik nol.
Rifan : “Di mata aku, kamu selalu jadi pemenang.”
Raine : sigh-“ aku gak ngerti maksud kamu. tapi kenyataannya.. yaudahlah. Aku fikir tadinya kita bisa nyelesaiin semuanya sekarang..”
Jeda.
Rifan tetap diam dan kelihatan bertekad mengakhiri pembicaraannya dengan Raine sampai pada kalimatnya yang terakhir barusan.
Raine : sedikit tidak ingin mengakhiri, takut-takut dirinya akan menyesal. “Hmm.. gak apa-apa. Aku cuma mau ungkapin apa yang selama ini gak kamu tau. Dan aku juga mau tau yang sebenernya perasaan kamu.. mau ngeyakini diri aku aja sebenernya kamu bahagia atau nggak. Tapi sekarang akhirnya aku tau. Dan bener, apa yang aku takutin..”
Jeda.
Rifan tetap tidak menimpali kata-kata Raine.
Raine : “ahh.. Aku gak pernah ngebayangin bakal kayak gini. Bakal jadi pengganggu hubungan orang.. apalagi hubungan orang yang aku sayang sama orang yang dia cinta. Aku yang bodoh, Fan.. harusnya dari dulu aku sadar kalo semuanya emang udah berakhir.”
Hati Raine kelu, sangat kelu. Rasanya ia hampir rubuh. Ia memilih untuk duduk di kursi semen
terdekat. Matanya tak berkedip, takut-takut satu tetesan keluar dan membuat tetesan-tetesan selanjutnya berhamburan.
Keduanya melempar pandangan kosong ke hamparan pantai yang membentang di depannya.
Pantai. Ya, pantai. Tempat yang dulu Raine inginkan sebagai tempat terindah mengucap janji. Dan mampu tuk lewatkan masa indah mereka berdua. Sayangnya, itu hanya hayalan kecil Raine yang ia ciptakan untuknya sendiri. Untuk membangkitkan semangat hidupnya sendiri. Ini kali pertama, dan mungkin juga sekaligus yang terakhir ia lewatkan sewaktu dengan Rifan, orang yang sangat ia cintai, di pantai, di tempat yang sangat ia impikan.
Jeda.
Raine berfikir keras, kesempatan terakhir macam apa yang sebenarnya ia harapkan.
Ia berusaha meredam emosinya sendiri yang selalu mudah termanifestasi ketika berhadapan dengan Rifan.
Jeda.
Raine sudah benar-benar memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi berada di satu langit dengan jarak yang sangat dekat sekali dengan orang yang ia impikan.
Ingin rasanya menghanyutkan semua kenangan dan khayalannya bersama Rifan di pantai di hadapannya.
Ia mulai beranjak dari kursinya. Kini ia dalam posisi berdiri dan siap melangkah, ketika satu tangan Rifan meraih lengannya.
Rifan : “Raine, tunggu..”
Raine menoleh. Lalu jeda.
Rifan : “Aku sayang sama kamu. aku juga ga bisa bohongin perasaan aku. Aku seperti ini karna kamu. Aku milih dia, karna aku sayang kamu. Aku nikahin dia, karna aku berfikir untuk hidup kamu. aku ninggalin kamu, karna aku pingin, cinta aku ke kamu tetep sama kayak dulu. Tetep suci. Tanpa obsesi. Bener-bener cinta sama kamu, tanpa berfikir dan berharap kamu juga cinta sama aku.
Raine : -airmatanya tidak terbendung lagi-
Rifan : perlahan berjalan mendekat ke arah Raine. Kedua tangannya yang besar meraih tangan kecil Raine yang dingin dan gemetar. Ia genggam erat-erat, berharap bisa menghangatkan Raine.-
“Kamu selalu sama. Ga pernah berubah. Selalu Raine yang cinta sama Rifan, kan?”
Raine : memberikan anggukan kecil, memilih untuk mengunci mulutnya sendiri, sebab airmata yang terus keluar dari tadi membuat nafasnya jadi tidak beraturan.
Rifan tidak tahan melihat wajah sendu Raine, ia mengelus kepala Raine dan mengusap air matanya yang bercucuran. Perlahan ia dekatkan wajahnya ke arah atas. Dan kecupannya pun tepat mendarat di dahi Raine.
Rifan : “Aku sayang sama kamu, karna itu aku ga memilih kamu di kehidupan ku. Aku mau kita ketemu lagi di kehidupan nanti. Bukan sekrang. Aku ga bisa kamu tinggalin, makanya aku memilih lebih dulu ninggalin kamu. Maaf ya, aku memang egois. Semoga kamu ngerti, Raine”.
Raine : -wajahnya menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya, “ Aku akan terus sayang sama kamu. selama apapun itu, Fan. Aku nerima kenyataan hidup aku. Aku gak papa, walaupun aku ga akan pernah punya pendamping di hidup aku. Aku lebih baik seperti itu, ketimbang harus bohongin perasaan aku. Dibanding aku harus pura-pura sayang sama orang lain yang bukan kamu. Aku nyakitin diri aku sendiri dan orang itu, aku gak mau. Lebih baik, aku terus sendiri.”
Rifan : “Bodoh. Buat apa aku nikahin dia, kalo kamu milih untuk gak bahagia? Sama aja artinya kamu ga ngehargain pengorbanan aku, Raine.”
Raine limbung, tidak mengerti.
Rifan : “Kamu itu sempurna di mata aku. Aku yakin kamu ga akan ngelakuin hal-hal bodoh kayak yang isteri aku lakuin. Tanpa aku, kamu masih bisa bahagia, masih bisa tetap hidup. Kamu masih bisa tersenyum, tertawa, karena kamu punya apa yang istri aku ga punya. Kamu lebih hebat dari wanita mana pun. Aku ga pernah khawatir karena aku selalu percaya sama kamu.”
Rifan : Guratan senyum tergambar lagi di wajahnya, sembari meyakinkan dirinya dan diri orang yang dikecupnya barusan.
Raine : Matanya bulat dan basah. Tetap terpaku. Tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun lagi. Apa yang tadi dikatakannya merupakan keputusan final, yang tidak ingin dibantah lagi oleh siapa pun.
Rifan : “Kamu gak bakal bunuh diri dan semacamnya kalo aku ninggalin kamu. Kamu ga akan ngerusak diri kamu kalo aku ga ada lagi di hidup kamu. Kamu akan terus hidup buat kebahagiaan aku. Buat pilihan aku.”
Jeda. Keduanya diam lagi.
Rifan : “Istri aku, dia negrusak hidupnya ketika aku berjalan satu langkah ninggalin dia. Saat itu aku sadar, dia butuh aku..”
Rifan mengakhiri kata-katanya begitu cepat.
Raine : “Aku bangga sama kamu. aku percaya sama kamu. aku ga pernah salah mencintai orang seperti kamu. aku ga pernah sia-sia. Apa yang kamu bilang, benar. Aku masih bisa hidup tanpa kamu. Ada orang yang lebih butuh aku dibanding kamu.”
Rifan : “Kamu janji bakal terus hidup? Janji, kalo kamu bakalan bahagia.. aku juga selalu bangga sama kamu, Raine. Tuhan ga pernah salah memilih kamu yang selalu ada di hati aku.”
Raine : “Kita selalu sama. Peluk aku Fan. Untuk yang pertama kali di hidup aku. Dan aku janji ini untuk yang terakhir kalinya juga. Aku ga akan ganggu kebahagiaan kamu. Gak akan ganggu fikiran kamu.”
Rifan : -mendekap Raine erat-erat- “sampai ketemu lagi ya Raine. Aku juga bakalan nunggu kamu. Untuk kehidupan yang lebih hakiki. Jaga diri kamu. Ketika kamu udah bahagia, jangan pernah berfikir tentang aku lagi. Kalo kamu masih mikirin aku, itu tandanya kamu belum bahagia. Aku selalu bahagia ketika kamu juga bahagia. Aku selalu sedih, ketika kamu juga sedih. Karena benang merah yang menghubungkan kedua jari kelingking kita ga akan pernah putus sampai kita mati..”
Raine : “Aku janji, Fan. Aku janji aku bakal hidup bahagia. Tanpa kamu suruh, aku juga selalu nunggu kamu. See you again.”
Tetesan airmata terakhir Raine mengering di kaos putih polos tanpa corak milik Rifan.
Sosok Raine yang tidak pernah berubah sejak terakhir kali Rifan lihat ketika Raine sedang bersama Rian mulai menghilang dari pandangannya.
Sosok Raine yang mengenakan kaos putih dan rok biru cerah, kini akan selalu terekam dalam ingatan Rifan. Selamanya.
Raine and Rifan- about their last dream.
Psycho-analysist by nuraini septiana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar