hello world!
how's your life there?
Perkara skripsi akhirnya telah mengalami antiklimaks. Seminggu yang lalu sidang pun berhasil ku lewati dengan selamat tanpa celaka suatu apa pun. Alhamdulillah. Giliran fokus galau kehidupan relasi dengan manusia-manusia di Jogja yang semakin hari membuatku semakin nelangsa menghadapi perpisahan yang kian dekat.
Yeah, setiap perpisahan selalu berhasil membuat kita tegar dari sebelumnya. Perpisahaan mengenalkan kita pada berharganya waktu saat-saat bersama, perpisahan menorehkan secarik kenangan yang bisa kita nikmati kapan saja setelahnya. Perpisahaan memuja sedih yang berkepanjangan namun menawarkan kita dengan lembar kehidupan yang baru.
Jika kita takut dengan perpisahaan seumur hidup kita akan terpuruk dan menolak masa depan. Kita tahu, hidup tidak cuma sampai hari ini, begitu pun aku. Hidup tak berhenti sampai di sini, sampai di Jogja, sampai pada tertawa dengan teman-teman, tidak juga saat wisuda nanti.
Ada waktu yang pantas dijelang, pantas disambut oleh rasa haru masa lalu..
Well, aku pun tak pernah tahu seperti apa jadinya besok ketika aku harus meninggalkan Jogjakarta penuh cinta ini (uhuk).
Pilihan terbaik memang bukan bekerja menurutku, bekerja di Indonesia akan terus menorehkan luka untuk ku, mengingat hal-hal apa yang masih bisa dijamah namun tak kuasa hati menautkan waktunya.
Aku lebih memilih revolusi pergi sejauh-jauhnya dari Indonesia, untuk memulai hidup yang benar-benar baru. Semoga saja bisa.
Satu hal lagi yang begitu mengganjal hatiku saat ini. Ya tentang kamu.
Bisakah aku terus bersamamu? egois, memang. Tapi itu bukan opsi untuk mu. Aku tak kan pernah meminta kembali seluruh pengorbananku pada mu, tidak juga memohon mu selalu dengan ku. Tapi tolong beri aku sinyal ketika kamu tak ingin lagi bersamaku.
Terima kasih bijaksana, aku harus catat, aku salah satu orang yang menghargaimu saat kapan pun :)
Bahkan saat kau memilih untuk meninggalkanku