Selasa, 13 Maret 2012

tidak ada judul.

suara hujan yang menggebu di luar kamar saya cukup menceritakan bagaimana perasaan saya malam ini.

Saya biasanya sampai tidak bisa tidur karena terlalu penat dengan fikiran yang buruk terutama tentang kesedihan yang membuat hati saya kelu.

Menangis menjadi jalan keluar namun bukan menyelesaikan, hanya saja meredam sementara.

baik, sebut saya naif.

kadang saya hanya perlu waktu sebentar untuk menangis lalu melupakan suatu hal.
namun kadang pula saya butuh waktu lama dan terus berfikir apa saya harus memutuskan suatu hal.

Satu tahun yang saya jalani saat ini mungkin agak berat, karena masalah lama terus muncul di kehidupan saya.

Saya menekan ego dan terus meredamnya dalam satu penebusan dosa, atas apa yang selama ini saya lakukan.

Namun kadang ego itu terus berteriak dan berkecamuk di dalam fikiran saya.
Ego saya ingin dipahami, ingin diberikan jalan keluar, ego saya ingin tidak terus-terusan mengalah begitu saja, dan penebusan dosa selalu berkata: this is it, jalan yang harus kamu lewati! rasa penebusan dosa juga sering kali berkata bahwa ego lebih sering hanya memperkeruh keadaan.

Saya mencoba menjadi diri saya yang lain.
Tidak frontal.
Tidak ekspresif.
Menekan perasaan.
Bersabar.

Poin terakhir selalu berasosiasi positif.

Jujur, saya kadang terlalu memikirkan sesuatu secara tidak normal. Saya selalu berfikir dua sisi, dan cenderung mudah menyerah. Saya akui, sedikit sekali aura optimis di dalam diri saya.
Saya sungguh sangat pencemburu dengan kondisi apapun dan mudah sekali salah paham.
Sayangnya saat ini ditambah rumit dengan ketidakberdayaan saya dalam mengungkapkan sesuatu.

Apapun yang ada di kepala saya terkonversi menjadi hal yang tidak enak ketika saya ungkapkan. Tidak jarang pada akhirnya, lagi-lagi saya menjadi penyebab kekacauan.

Ini berat. Saya akui. Namun saya mencoba kebal dengan berat dan sakit itu.
Pilihan saya untuk ditinggalkan. Bukan untuk meninggalkan.
Sesakit apapun itu, saya terima. Itu sudah menjadi keputusan yang mendominasi fikiran dan perbuatan saya.

Namun seorang sahabat berkata,aku hanya nyamuk bagi dirinya.

Bagaimana saya bisa terus hidup dengan dua gema seperti itu terus menerus di dalam kepala saya.
Saya tidak pernah benar2 menemukan siapa saya dan bagaimana saya harus berbuat.

kadang ini tampak kacau sekali.
kadang aku hanya seperti menunggu bom waktu,
ya, untuk ditinggalkan.


"Jika kamu letih, beritahu aku.
karna tanpa kamu bicara, aku tidak akan tahu.
semoga kamu tidak pernah salah memahami kalimatku barusan."

ada alasan kenapa saya rikuh dan segan bicara tentang hubungan. Karna saya tau persis, saya tidak bisa menyampaikan dengan baik apa yang ada di kepala dan hati saya. Sering kali hal itu justru merusak apa yang ada. dan saya takut,bahkan itu bisa merusak perasaan dia.

Tidak ada komentar: