Senin, 22 November 2010

catatan kecil hari ini (ep.2)

Sebuah kafe, selesai liputan di penghujung November 2010.

Akhirnya bisa buka blog ini juga setelah terlupakan beberapa waktu akibat jadwal dan fikiran-fikiran keruh. Belakangan ini saya malah jadi lebih tertarik menulis melalui notes di facebook. hehe.

Kemarin saya sempat membaca catatan di facebook salah seorang dosen saya. Catatan yang cukup lama, ditulis sekitar September 2010 ini, tapi baru sempat saya baca tadi malam. Isi dari tulisannya membuat hati saya bergetar, membuat mendung pelupuk mata saya dan yang terpenting membuat saya berfikir ulang dengan apa yang saya jalani selama ini.

Topik yang dibahas tidaklah panjang lebar, perkara hati dan cinta yang menjadi dilema selama ini. Dalam tulisan itu, ia mengajak untuk berfikir ulang tentang entitas cinta dan perkara hati.

Well, dia baru saja bercerai dengan istrinya. Mungkin di sanalah kulminasi aku mendapatkan jiwaku terenyuh dan sedikit termehek-mehek.(haha)

Saya kembali lagi mengulang apa yang selama ini menjadi prinsip dalam hal percintaan saya. Tentang hati yang tak terbagi dan cinta sejati. Memang cinta itu adalah derita, itu kenyataannya bagi kaum non-realis, tapi saya pertanyakan lagi apa mereka yang mengaku realis masih mempunyai hati yang dapat sepenuhnya mengerti esensi cinta?

Di catatan itu juga saya dapati pendapat ia tentang rasa nyaman dalam sebuah hubungan. Well, kali ini saya sepakat. Itu hal yang sepertinya baru kemarin menjadi pedoman saya dalam sebuah hubungan manapun dan apapun. Saya merasa menjadi sedikit realistis dengan mengedepankan rasa nyaman dalam hubungan.

Di luar dari itu, sebenarnya saya ingin membahasa tentang pengakuan. Saya rasa hal apapun yang tengah menjadi diri kita saat ini membutuhkan apa yang dinamakan dengan pengakuan.

Haha, dangkal sekali agaknya ketika saya menyerukan tentang pengakuan di tengah kondisi hubungan saya dengan seseorang yang hampir tidak menunjukkan arah ke depan T.T alias gantung.

Baiklah, saya memang pernah menggantungkan hubungan dengan seseorang selama tidak lebih dari tiga bulan. jahat ya? Tetapi setelah itu akhirnya dia yang buka pembicaraan dan akhirnya kita menjadi jelas. Dia bertanya dan saya menjawab. Thats all.

Tapi kali ini rasanya beda situasi. Saya merasa ini tidak semudah seperti yang saya jalani sebelum-sebelumnya. Memang kami sepemikiran untuk lebih baik menjalani hubungan yang serius, bukan hanya untuk 1-2 tahun saja, tapi untuk jenjang lebih serius lagi, pernikahan.

Namun komitmen menjadi sebuah momok menyeramkan agaknya bagi kami. sehingga kami perlu usaha dan sikap yang lebih hati-hati.

Saya merasa berbeda, karena kali ini saya merasa tidak senyaman ketika saya bersama seorang sahabat saya. Saya perlu bersikap lebih mengontrol diri misalnya dalam bahasa yang saya gunakan. sebenarnya hal itu terjadi begitu saja tanpa saya sadari, dan membuat saya semata-mata takut dia berfikir jelek mengenai saya. ilfeel lah istilahnya.

Mungkin hari ini saya katakan ada tiga perkara Cinta dan Hati yang masih menjadi pertimbangan saya, rasa nyaman, destiny, dan yang terakhir adalah perasaan gejolak dalam hati atau chemistry.

Rasa nyaman yang saya dapatkan bersama sahabat saya memang tiada dua, tapi sayang, rasa nyaman yang tadinya saya sebut dapat mengalahkan segala-galanya membuat saya berfikir ulang, apakah hanya sampai di sana? hanya rasa nyaman, tanpa membuat sebuah kemajuan dan perbaikan dalam hidup? apakah kita akan mati tanpa rasa nyaman? rasa nyaman bisa saja menjadi bumerang bagi diri sendiri, membuat kita manja dan lahir tanpa usaha.

Namun sayangnya saya belum bisa mengambil kepastian dari ini semua. Masih menjadi perdebatan dan wacana di kepala saya.

Kita tidak akan mati tanpa rasa nyaman. Egois ketika seorang realis mengatakan bahwa dirinya tidak akan berubah untuk orang lain, tapi ia menghendaki penerimaan sepenuhnya atas dirinya di muka orang lain.

Sebenarnya saya mengkritik seseorang yang tengah saya fikirkan detik ini. Ia pernah mengatakan hal itu, tapi saya hanya berdecak tanpa berkomentar macam-macam.

Saya merasa tidak bisa menilai dia hanya sebatas ia seorang realis yang memutuskan hidupnya hanya sampai menjadi itu. Beberapa ceritanya pernah bicara soal cinta tanpa alasan, getaran-getaran, destiny, dan hal lain yang senada dengan apa yang tengah saya kumulasikan dalam wacana hati dan fikiran saya.

Saya merasa saya dan dia memang berbeda. Tumbuh di lingkungan yang berbeda, namun sedikit banyak hal yang bernama cinta itu memang general oleh karena itu kita mendapati diri kita bersama-sama terjun dalam sudut yang serupa. Namun jelas tidak bisa dipukul rata, sama plek.

Kali ini mungkin kita bertemu pada titik dimana kita merasa cinta itu sangat SUCK. Kemudian kami memilih untuk berhenti memikirkan ini. Namun tanpa kita sadari sebenarnya kita tengah menjalani.. aneh ya?

Mungkin baru tiga tahun belakangan ini saya lebih mengenal hidup saya sendiri dan bagaimana seharusnya hidup dijalani. Saya belajar banyak tentang interospeksi diri. Ketika saya ingin marah dan merasa kecewa terhadap orang lain, saya kembali bercermin. Apa saya pernah berbuat demikian hingga membuat dia kecewa? jika iya, tidaklah selayaknya saya merasa kecewa karena saya pun demikian adanya.

Begitu yang tengah saya jalani saat ini dalam hubungan apapun. saya tidak bisa teriak bahwa saya kecewa, saya bersedih dan marah lantaran sikap yang ia berikan kepada saya. Saya harus kembali melihat ke diri saya, seperti apa saya sendiri?

Jika suatu ketika ia dekat dengan orang lain, perduli dengan orang itu, saya merasa tidak pantas marah atau merasa bersedih karena saya pun demikian. Saya juga pernah perduli dengan orang lain dan dekat dengan orang tersebut.

Dilematis memang ketika ego bersuara tetapi realitas datang membukam. Lalu sebenarnya di mana letak diri kita? sikap kita? kita tidak selayaknya berada di tengah-tengah menghadapi bak malaikat tak berdosa dan suci.

Manusia hanyalah manusia. Punya hati punya rasa. Untuk menjadi seorang malaikat manusia harus mengorbankan perasaannya dan rela hidup menderita.

Dan saya pernah mencoba hal itu. Sangat menyakitkan dan begitu menyedihkan.

Alih-alih mengenai pengakuan. Hidup memang tidak lebih dari sebuah pengakuan. Bangsa yang merdeka tidaklah dikatakan merdeka jika bangsa-bangsa lain tidak mengakuinya sebagai bangsa yang merdeka.

Saya cantik, apakah benar demikian? apalah arti sebuah kecantikan, kebaikan, dan lainnya jika itu hanya ada dalam diri dan fikiran kita saja, tidak dalam pengakuan orang lain.

Saya baik, apakah memang saya baik? jika bahkan tak ada seorangpun yang beropini bahwa saya seorang yang baik.

Hidup dengan keharusan dalam pengakuan memang tidak nikmat rasanya, Kita seperti harus selalu mencari pembenaran-pembenaran dari orang lain. Buka mencari kebenaran di luar diri kita.

Hidup dari testimoni orang lain memang terasa berat jika kita adalah seorang yang tidak pedulian terhadap sekitar.

Tulisan ini mungkin agaknya bertentangan dengan yang sebelumnya saya tulis mengenai menjalani sesuatu dengan hati dan kemauan diri, tanpa peduli orang mau bilang apa.

Tidak ada komentar: